Depok, haluanpublik.com – Proses Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun 2026 di SMP Negeri 9 Depok diduga diwarnai praktik manipulasi data. Seorang calon peserta didik ketahuan mengubah titik domisili agar skornya naik dan dinyatakan lolos seleksi.
Berdasarkan penelusuran internal sekolah, pendaftar tersebut tercatat 3 kali mendaftar. Pada pendaftaran pertama jalur domisili, skornya 17.000-an dan tidak lolos karena tergeser. Kemudian cabut berkas dan mendaftar ke SMP Negeri 29, lalu ke program RSSG/Sekolah Swasta Gratis dan diterima.
Namun, berselang beberapa waktu pendaftar dengan nama yang sama kembali muncul di sistem SMP Negeri 9. Kejanggalannya, titik koordinat domisili diubah sehingga jarak ke sekolah dari hampir 2 km menjadi 700 meter. Dampaknya skor naik menjadi 19.000-an dan dinyatakan diterima.
“Yang harusnya sudah gugur bisa muncul lagi. Kami tidak melakukan verifikasi perubahan data itu. Ini bukan kewenangan kami,” kata Kepala Sekolah SMPN 9 Depok, Agus, Senin (13/07).
Ia menjelaskan, rumus skor jalur domisili mengacu pada Perwal Wali Kota Depok yaitu, 20.000+Nilai Wilayah- Google Maps, “Jadi kalau titiknya didekatkan, pengurangannya kecil. Skor otomatis naik,” tambahnya.
Agus menegaskan pihaknya siap jika Dinas Pendidikan Kota Depok melakukan investigasi. “Kami dari awal sudah menjalankan sesuai aturan Perwal. Kalau ada tim yang datang menyelidiki, kami terbuka dan siap memberikan data,” tegasnya.
Untuk tahun ajaran tahun ini SMP Negeri 9 Depok membuka 10 rombel dengan daya tampung 400 siswa. Karena ada 1 siswa tidak naik kelas, maka yang diterima 399 siswa. Sistem kelas di sekolah ini dicampur, tidak ada kelas unggulan.(*)




