Berita  

Cegah Bahaya Mikroplastik, Peneliti UPER Ciptakan Deteksi Cerdas dari Limbah Sawit  

Cegah Bahaya Mikroplastik, Peneliti UPER Ciptakan Deteksi Cerdas dari Limbah Sawit    

Jakarta, haluanpublik.com – Pencemaran plastik terus menjadi ancaman serius bagi ekosistem global. Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) mencatat sekitar 19–23 juta ton limbah plastik mencemari perairan dunia setiap tahun. Terpapar sinar matahari dan gesekan fisik, plastik tersebut terurai menjadi partikel berukuran di bawah 5 milimeter atau yang dikenal sebagai mikroplastik. Ukurannya yang sangat kecil membuatnya mudah tertelan biota perairan dan masuk ke rantai makanan, sehingga kemampuan mendeteksi keberadaannya menjadi langkah krusial dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Menjawab tantangan tersebut, Dr. Nonni Soraya Sambudi, Dosen Program Studi Teknik Kimia Universitas Pertamina (UPER), bersama tim peneliti dari BRIN, Universitas Indonesia, Universiti Teknologi Malaysia, dan Universiti Teknologi PETRONAS, berhasil mengembangkan metode inovatif. Limbah pelepah sawit diolah menjadi material nanokarbon bernama Carbon Quantum Dots (CQDs) yang berfungsi sebagai pendeteksi keberadaan mikroplastik.

“Pelepah sawit dapat diolah menjadi partikel karbon sangat kecil yang disebut Carbon Quantum Dots atau CQDs. Partikel ini dapat memancarkan cahaya ketika disinari. Setelah mikroplastik ditambahkan ke dalam larutannya, cahaya tersebut bisa menjadi lebih terang atau lebih redup. Kami mempelajari perubahan ini untuk mengetahui apakah CQDs dapat membantu mendeteksi mikroplastik, sekaligus memberi nilai tambah pada limbah pelepah sawit,” ungkap Dr. Nonni.

Proses pembuatan CQDs memanfaatkan kandungan lignin pada pelepah sawit sebagai sumber karbon. Pelepah dikeringkan, digiling, dikarbonisasi, lalu diproses pada tiga variasi suhu: 180°C, 190°C, dan 200°C. Hasil penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Technology edisi Januari 2025 menunjukkan bahwa suhu 200°C menghasilkan CQDs dengan pancaran cahaya paling kuat, berukuran rata-rata hanya 4,05 nanometer, jauh lebih halus daripada sehelai rambut manusia.

Tim peneliti menguji efektivitas CQDs terhadap dua jenis mikroplastik yang paling umum ditemukan, yaitu polietilena (PE) dan polietilena tereftalat (PET). Perubahan intensitas cahaya yang muncul saat CQDs berinteraksi dengan mikroplastik menjadi indikator keberadaan polutan tersebut.

“Tujuannya untuk mengetahui apakah perubahan cahaya tersebut dapat menjadi petunjuk keberadaan mikroplastik,” jelas Dr. Nonni.

Inovasi ini membuka peluang besar pemanfaatan limbah pertanian untuk mengatasi masalah lingkungan yang mendesak. Meski masih memerlukan penyempurnaan agar hasilnya semakin konsisten saat diterapkan langsung di lapangan, teknologi ini berpotensi menjadi alat pemantauan pencemaran yang lebih praktis dan terjangkau di masa depan.

Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, menyambut baik temuan tersebut sebagai wujud nyata kontribusi perguruan tinggi.

“Riset ini menunjukkan pentingnya pengembangan teknologi yang mampu menjawab persoalan lingkungan sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan. UPER terus mendorong riset yang tidak berhenti pada pengembangan pengetahuan, tetapi juga memiliki potensi untuk memberikan solusi nyata bagi lingkungan dan kebutuhan teknologi di masa depan,” ujar Prof. Ichsan.

(Deni)