Ustadz Timbul Purnomo: Tertibkan Prioritas Rezeki, Mulai dari Sedekah hingga Kebutuhan Keluarga

Ustadz Timbul Purnomo: Tertibkan Prioritas Rezeki, Mulai dari Sedekah hingga Kebutuhan Keluarga

Pemalang, haluanpublik.com – Tokoh masyarakat sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Komariyah, Ustadz Timbul Purnomo, menggelar diskusi hangat bersama para santri yang juga berprofesi sebagai wartawan di Dukuh Karang Suci, Desa Penggarit, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, Selasa (18/08/2026). Dalam perbincangan santai tersebut, beliau memaparkan prinsip pengelolaan keuangan pribadi yang dirangkai dalam nilai-nilai keagamaan.

Ustadz Timbul memperkenalkan konsep piramida ekonomi berbasis ajaran Islam sebagai panduan prioritas penggunaan rezeki. Urutan pertama dan utama adalah bersedekah, disisihkan dari setiap rezeki yang diperoleh, tanpa melihat besar kecilnya nominal, melainkan diukur dari ketulusan hati dan niat memberi manfaat kepada sesama.

Setelah sedekah, langkah kedua adalah menabung. Mengalokasikan dana secara konsisten, dimulai dari nominal sekecil apa pun, sebagai persiapan masa depan.

Baru setelah itu, urutan ketiga adalah memenuhi kebutuhan pokok keluarga secara bijak. “Memenuhi kebutuhan harian dengan bijak setelah menyisihkan untuk sedekah dan tabungan,” pesannya. Pola ini dinilai dapat membentuk sikap hidup yang hemat dan bijaksana, serta mencegah pengeluaran berlebih yang tidak sesuai prioritas.

“Bersedekahlah dan menabunglah, lalu penuhi kebutuhan keluargamu dari hasil pencarian nafkahmu,” ujar Ustadz Timbul. “Bila demikian, InsyaAllah ketenteraman jiwa dan keharmonisan dalam keluarga akan muncul dari hal demikian.”

Diskusi pun mendalami aspek spiritualitas dan pemaknaan hidup. Ustadz Timbul menegaskan dua prinsip penting: kesadaran untuk terus mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui keheningan hati dan kepasrahan, serta menjaga kerukunan antarumat beragama dengan saling menghormati perbedaan.

Sebagai penutup, beliau berpesan agar setiap orang mampu memahami keberadaan diri sendiri untuk mencapai ketenangan batin tanpa terpengaruh oleh gengsi materi. Pesan itu disampaikan dengan kesederhanaan, diselingi momen menyeruput kopi hitam di akhir perbincangan.

(Eko B Art)