ICONIC-RS 2025, UPER Rumuskan Strategi Hadapi Risiko Global dan Memperkuat Ketahanan Sosial, Ekonomi, serta Lingkungan 
Beranda  

ICONIC-RS 2025, UPER Rumuskan Strategi Hadapi Risiko Global dan Memperkuat Ketahanan Sosial, Ekonomi, serta Lingkungan 

Menurut World Meteorological Organization (WMO), selama 30 tahun terakhir (1970–2021) tercatat hampir 12.000 kejadian bahaya terkait cuaca, iklim, dan air di seluruh dunia. Sebagian besar di antaranya berupa badai, banjir, dan gelombang panas yang berdampak luas terhadap kehidupan manusia dan perekonomian global. Ironinya, jumlah populasi yang tinggal di wilayah rawan bencana justru terus meningkat. Data World Bank mencatat sekitar 1,81 miliar orang, atau 23% populasi dunia, tinggal di kawasan berisiko tinggi terhadap banjir, sementara jutaan lainnya terpapar risiko kekeringan, badai tropis, dan kenaikan permukaan laut.

Top 10 Dosen Universitas Pertamina dengan H-Index Scopus Tertinggi
Beranda  

Top 10 Dosen Universitas Pertamina dengan H-Index Scopus Tertinggi

Riset menjadi salah satu pilar penting dalam membangun daya saing bangsa. Data Scopus mencatat selama dua dekade terakhir mereka telah menjalin kerja sama dengan lebih dari 7.000 penerbit di 105 negara, sehingga mampu menyediakan konten dari 28.791 jurnal peer-reviewed aktif. Dari jumlah itu, sekitar 25,1 juta artikel open access yang berasal dari 8.137 jurnal open access kini terindeks dan dapat diakses oleh komunitas akademik global.

Inovasi Peneliti Perempuan UPER: Sekam Padi Jadi Solusi Limbah
Beranda  

Inovasi Peneliti Perempuan UPER: Sekam Padi Jadi Solusi Limbah

Pencemaran air akibat limbah industri dan pertanian kian menjadi perhatian dunia. Menurut Bank Dunia (2020), sekitar 80 persen air limbah global masih dibuang langsung ke lingkungan tanpa pengolahan memadai. Akibatnya, logam berat dan zat warna berbahaya menumpuk di sungai dan danau, merusak ekosistem, mengancam kesehatan manusia, dan mengganggu rantai makanan. Laporan Kementerian Lingkungan Hidup (2025) bahkan mencatat 70,70 persen kualitas air sungai di Indonesia masuk kategori tercemar sedang hingga berat, terutama oleh limbah domestik dan industri.

Selamatkan Pesisir Mundam-Dumai, Riau, Universitas Pertamina Galang Kolaborasi dengan Industri dan Pemerintah Daerah
Beranda  

Selamatkan Pesisir Mundam-Dumai, Riau, Universitas Pertamina Galang Kolaborasi dengan Industri dan Pemerintah Daerah

Abrasi pesisir di Provinsi Riau kian mengkhawatirkan. Hampir seperempat dari total garis pantai sepanjang 2.090 kilometer telah terkikis (DLHK Riau, 2024). Survei berkelanjutan Universitas Pertamina (UPER), PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) RU II Dumai, dan Pemerintah Kota Dumai menemukan penyusutan dramatis di Kelurahan Mundam: jarak antara pemukiman warga dan garis pantai yang semula sekitar 250 meter kini hanya tersisa lima meter. Warga hidup dalam kecemasan setiap kali gelombang pasang datang, khawatir rumah dan lahan mereka tersapu air laut.

UPER-PertaMC Luncurkan STRIVE, Cetak Talenta Hijau untuk Dukung Transisi Energi Nasional
Beranda  

UPER-PertaMC Luncurkan STRIVE, Cetak Talenta Hijau untuk Dukung Transisi Energi Nasional

Indonesia menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 31,89 persen secara mandiri dan 43,20 persen dengan dukungan internasional pada 2030, sebagaimana tertuang dalam dokumen kontribusi yang ditetapkan secara nasional (NDC) 2022. Sejalan dengan komitmen itu, Kementerian PPN/Bappenas memproyeksikan kebutuhan tenaga kerja hijau meningkat dari 56 juta orang pada 2025 menjadi 72 juta orang pada 2029. Namun saat ini, tenaga kerja yang memiliki keterampilan hijau (“green skills”) baru mencapai sekitar 3,7 juta orang atau sekitar 2,6 persen dari total angkatan kerja.

Mahasiswa UPER Diversifikasi Olahan Singkong, Dongkrak Ekonomi Desa Barengkok
Beranda  

Mahasiswa UPER Diversifikasi Olahan Singkong, Dongkrak Ekonomi Desa Barengkok

Singkong merupakan salah satu komoditas penting di Indonesia, selain sebagai sumber karbohidrat juga menjadi bahan baku industri pangan hingga energi. Di Desa Barengkok, Kabupaten Bogor, singkong menjadi tumpuan utama perekonomian warga. Dari lahan pertanian seluas 285 hektar, petani mampu menghasilkan 30–50 kilogram setiap kali panen dengan harga Rp.1.350 per kilogram. Sebagian hasil panen diolah menjadi tape secara tradisional, namun minimnya variasi produk membuat olahan Barengkok belum mampu menembus pasar lebih luas sehingga peluang peningkatan pendapatan masyarakat masih terbatas.

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.