Jakarta, haluanpublik.com – Tiga mahasiswa Program Studi Komunikasi Universitas Pertamina (UPER), Mutiara Permatasari, Ni Wayan Listyawati, dan Regitha Nur Azizah, berhasil meraih Juara 1 kategori Next Gen PR Strategy dalam Konvensi Humas Indonesia (KHI) yang diselenggarakan Perhumas Indonesia pada 18 Oktober 2026.
Kemenangan diraih melalui rancangan strategi komunikasi krisis yang mengedepankan transparansi, partisipasi publik, serta langkah konkret dan terukur untuk memulihkan kepercayaan masyarakat, sebuah pendekatan yang sangat relevan dengan dinamika korporasi saat ini. Studi Aguiar et al. (2026) mencatat hampir 30 persen perusahaan mengalami krisis kepercayaan, namun hanya sekitar 2 persen yang berhasil memulihkannya secara langsung.
Tim UPER mengembangkan strategi pemulihan reputasi dengan studi kasus Chocova, perusahaan cokelat yang menghadapi krisis akibat dugaan keterlibatan sekitar 2.150 pekerja anak pada 34 dari 76 koperasi pemasok kakao. Kasus yang terungkap dari pihak eksternal ini menyoroti lemahnya pengawasan rantai pasok perusahaan.
“Ketika komitmen perusahaan tidak sejalan dengan praktik di lapangan, kepercayaan publik dapat berubah menjadi krisis. Penanganannya tidak cukup melalui klarifikasi atau permintaan maaf, tetapi harus diikuti tindakan nyata dan keterbukaan untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat,” ujar Mutiara Permatasari.
Solusi yang ditawarkan dibangun atas tiga pilar utama: Radical Transparency untuk membuka informasi rantai pasok, Public Participation guna melibatkan publik dalam pengawasan, serta Structural Intervention untuk membenahi sistem pemasok dan memulihkan akses pendidikan anak terdampak. Ketiga pendekatan ini diwujudkan dalam kampanye bertajuk “Satu Cokelat, Satu Harapan” yang berdurasi 100 hari.
Target yang ditetapkan pun terukur: penurunan sentimen negatif dari 68 persen menjadi di bawah 44 persen, peningkatan ketertelusuran kakao hingga 90 persen, audit seluruh koperasi prioritas, serta pengembalian 1.000 anak ke pendidikan formal.
“Bagi kami, keberhasilan penanganan krisis harus dapat diukur dan dibuktikan kepada publik,” tambah Mutiara.
Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, mengapresiasi pencapaian ini sebagai bukti keberhasilan pendekatan pembelajaran UPER yang mengintegrasikan teori dengan studi kasus nyata industri.
“Prestasi ini menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi strategis semakin dibutuhkan industri, terutama dalam membangun kepercayaan publik dan menjaga keberlanjutan bisnis,” ungkap Prof. Ichsan. (*)
