Berita  

Teror Sekolah Mengusik Depok, Tokoh Pendidikan Angkat Bicara

Teror Sekolah Mengusik Depok, Tokoh Pendidikan Angkat Bicara

DEPOK – Teror yang menyasar sejumlah sekolah di Kota Depok menjelang akhir tahun 2025 mengusik rasa aman dunia pendidikan dan memicu keprihatinan berbagai pihak.

Tokoh Pendidikan Kota Depok, H. Acep Azhari, angkat bicara dengan menegaskan bahwa peristiwa tersebut bukan sekadar ancaman keamanan, melainkan ujian serius bagi ketahanan nilai-nilai pendidikan di kota yang selama ini dikenal sebagai Kota Pendidikan.

H. Acep Azhari menilai, yang tengah diuji bukan hanya sistem pengamanan sekolah, tetapi juga keteguhan sikap seluruh ekosistem pendidikan dalam menghadapi rasa takut. Ia menilai pendidikan tidak boleh goyah oleh teror. Justru sebaliknya, sekolah harus menjadi ruang aman yang menumbuhkan keberanian, nalar sehat, dan solidaritas.

“Sekolah tidak hanya tempat transfer ilmu akademik, tetapi juga ruang pembentukan karakter. Ketika ada teror, yang diuji adalah apakah kita mampu tetap rasional, tenang, dan beradab,” ujarnya, pada Jumat (26/12).

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru menarik kesimpulan terkait motif di balik aksi teror tersebut. Namun demikian, peristiwa ini dinilainya sebagai alarm sosial bahwa masih ada persoalan relasi kemanusiaan yang perlu dibenahi. Bisa jadi terdapat individu yang merasa terasing, tidak didengar, atau gagal menemukan ruang dialog yang sehat.

“Pendidikan tidak cukup hanya berbicara kurikulum. Ada dimensi empati, komunikasi, dan relasi kemanusiaan yang harus diperkuat tanpa menyalahkan korban maupun institusi secara sepihak,” kata Jiacep.

Selain itu, secara umum, ia menilai kesiapan sekolah-sekolah di Depok dalam aspek akademik dan administratif relatif baik. Akan tetapi, dalam menghadapi ancaman non-akademik seperti teror, intimidasi, dan krisis psikologis, kesiapan tersebut masih perlu ditingkatkan.

Menurutnya, persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan keberadaan standar operasional prosedur (SOP), tetapi juga menyangkut kesiapan mental para guru, kepala sekolah, dan siswa agar tidak panik serta memahami langkah yang tepat saat menghadapi situasi darurat.

H. Acep Azhari juga menyoroti perhatian Pemerintah Kota Depok terhadap kesehatan mental siswa dan tenaga pendidik. Ia mengakui sudah ada sejumlah langkah yang dilakukan, namun pelaksanaannya belum merata dan belum terintegrasi secara kuat.

Pasca peristiwa teror ini, ia mendorong penguatan layanan konseling di sekolah, pelatihan guru dalam penanganan krisis psikologis, serta pendampingan pascatrauma agar rasa aman benar-benar pulih.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kebutuhan paling mendesak saat ini adalah kolaborasi semua pihak. Dari sisi kebijakan, diperlukan penguatan sistem keamanan dan protokol krisis yang bersifat edukatif, bukan represif semata.

Dari budaya sekolah, perlu dibangun iklim yang lebih inklusif dengan membuka ruang dialog dan mendengarkan suara siswa. Sementara itu, peran orang tua dan masyarakat diharapkan aktif dalam keseharian pendidikan, tidak hanya hadir saat krisis terjadi.

“Pendidikan yang kuat bukan pendidikan yang steril dari masalah, tetapi pendidikan yang mampu bertahan, belajar, dan tumbuh dari setiap ujian,” tegasnya.

Ia berharap aparat kepolisian dapat segera mengungkap dan menuntaskan kasus teror tersebut agar suasana kondusif kembali dirasakan oleh seluruh sekolah di Kota Depok, terutama setelah masa libur akhir tahun 2025, sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan normal tanpa bayang-bayang ketakutan.

Ke depan, peristiwa teror ini diharapkan menjadi titik balik bagi penguatan ekosistem pendidikan di Kota Depok. Tidak hanya melalui peningkatan sistem keamanan, tetapi juga dengan membangun sekolah sebagai ruang aman yang menumbuhkan keberanian berpikir, kesehatan mental, dan kepekaan sosial.

“Dengan kolaborasi pemerintah, pendidik, orang tua, dan masyarakat, Depok diharapkan mampu menjawab ujian ini bukan dengan ketakutan, melainkan dengan kedewasaan, solidaritas, dan komitmen menjaga masa depan pendidikan yang beradab dan berkelanjutan,” tutupnya.

Exit mobile version